Jumat, 07 Juni 2013

Gereja dan Kepemimpinan Dalam Jemaat

ABSTRAK

Kepemimpinan secara umum telah dikenal untuk jangka waktu yang panjang. Sejarah mencatat bahwa kepemimpinan telah diterapkan di mana-mana, dalam lingkungan masyarakat tradisional, maupun masyarakat maju, dari negara-negara kuno, sampai negara-negara modern pada abad XXI ini. Alkitab secara khusus memberikan pengakuan kepada kepentingan kepemimpian dengan menegaskan “Jikalau tidak ada pimpinan jatuhlah bangsa, tetapi jika penasehat banyak, kesematan ada” (Amsal 11:14). Di sini Alkitab melihat peran pemimpin dalam kepemimpinan sebagai “sangat penting,” karena menentukan jatuh bangunnya suatu kelompok. Di samping itu, manfaat pemimpin dan kepemimpinan adalah untuk membawa kebaikan – kesejahteraan (keselamatan) kelompok. Melihat pentingnya kepemimpinan seperti yang telah diuraikan di atas, dapat dipastikan bahwa kepemimpinan ternyata di pelukan di mana-mana, termasuk di dalam gereja. Mencermati hubungan gereja dan kepemimpinan dalam jemaat dapat dikatakan bahwa adalah bijak untuk mengkaji seberapa penting serta seberapa kuat pengaruh kepemimpinan gereja bagi jemaat. Pengkajian ini akan menyoroti dua aspek penting, yaitu antara lain; Gereja dan Kepemimpinan dan Pemimpin dalam Kepemimpinan Jemaat, Anggota Jemaat dalam kepemimpinan gereja, yang akan diakhiri dengan suatu rangkuman.

GEREJA DAN KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan Gereja, adalah bagian dari kepemimpinan Kristen. Secara khusus dapat dikatakan bahwa kepemimpinan gereja berkaitan dengan kepemimpinan dalam organisasi gereja. Memahami kepemimpinan gereja dalam perspektif ini, sebagai bagian dari kepemimpinan Kristen, kepemimpinan gereja adalah juga “Suatu proses terencana yang dinamis dalam konteks pelayanan Kristen (yang menyangkut faktor waktu, tempat, dan situasi khusus) yang di dalamnya oleh campur tangan Allah, Ia memanggil bagi diri-Nya seorang pemimpin (dengan kapasitas penuh) untuk memimpin umat-Nya (yang mengelompokkan diri dalam suatu institusi/organisasi gereja) guna mencapai tujuan Allah[2] (yang membawa keuntungan bagi pemimpin, bawahan, dan lingkungan hidup) bagi serta melalui umat-Nya, untuk kejayaan kerajaan-Nya.”[3] Pemahaman tentang kepemimpinan Kristen ini menegaskan bahwa kepemimpinan gereja sebagai proses terencana dan dinamis, mengambil konteks pelayanan Kristen sebagai faktor situasi khusus. Faktor situasi khusus ini berhubungan dengan pelayanan gereja lokal yang meliputi faktor waktu serta tempat khusus pula. Dalam kaitan ini dapat dikatakan bahwa kepemimpinan gereja adalah kepemimpinan Kristen yang mengambil gereja lokal (dalam organisasi atau denominasi khusus) sebagai lokus (tempat) di mana kepemimpinan Kristen itu dijalankan. Pemahaman ini bertautan erat dengan premis kepemimpinan Kristen, yang menegaskan bahwa dalam proses yang dinamis yang mengambil gereja lokal sebagai lokus ini, Allah campur tangan yang ditandai oleh tindakan-Nya memanggil bagi diri-Nya seorang pemimpin, ke dalam tanggung jawab kepemimpinan. Di sini dapat ditekankan bahwa, pemimpin gereja adalah seseorang yang dipanggil Allah kedalam tanggung jawab kepemimpinan. Panggilan kepada tanggung jawab kepemimpinan ini ditandai oleh adanya kapasitas serta tanggung jawab yang melekat padanya pemimpin untuk memimpin organisasi gereja. Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa sebagai seseorang yang dipanggil Allah ke dalam tanggungj awab kepemimpinan, pemimpin gereja perlu bersikap pasti akan panggilan Allah kepadanya (Markus 10:40; Yohanes 3:27). Alasan kuat badi harus adanya sikap pasti ini adalah: Pertama, panggilan Allah itu yang memberikan kepadanya otoritas untuk menjadi pemimpin. Panggilan Allah memberikan otoritas hidup, yang olehnya pemimpin dapat hidup dan memimpin seperti Yesus Kristus (Galatia 2:20; I Yohanes 2:6), yaitu “memimpin dari hati, berlandaskan kasih dengan kekuatan kebenaran – kebaiakan-Nya.” Dengan otoritas kepemimpinan berdasarkan panggilan Allah ini, pemimpin juga dilengkapi dengan kuasa kepemimpinan lengkap[4] yang ditopang oleh kredensi ilahi sehingga ia dapat melakukan upaya memimpin. Alasan kuat bagi kebenaran ini ialah karena panggilan Allah ini mengandaikan adanya kapasitas pemberian Allah untuk menjadi pemimpin yang berkualitas.[5] Kedua, panggilan Allah ini memberikan tanggung jawab kepada pemimpin guna membuktikan diri sebagai pemimpin yang kompeten, yang dapat melaksanakan upaya memimpin secara benar, baik, sehat dan berhasil. Di sini pemimpin secara pribadi bertanggung jawab untuk menetapkan rancangan pengembangan formatif bagi dirinya, yang terfokus kepada pengembangan dirinya menjadi pemimpin kompeten.[6]Sejalan dengan ini, pemimpin harus menetapkan postur belajar sepanjang hidup (life long learning posture) yang olehnya ia dapat terus berkembang kearah kompetensi penuh. Perkembangan ke arah kompetensi penuh ini mengandaikan bahwa pemimpin memiliki kapasitas lengkap yang olehnya ia dapat memimpin secara berkualitas. Ketiga, panggilan Allah melengkapi  pemimpin gereja dengan kapasitas dasar berupa kharisma kepemimpinan (Roma 12:8c), bawaan lahir, pengalaman khas, serta hasil pembelajaran yang olehnya ia dapat membuktikan diri sebagai kompeten. Kapasitas ini menjadi landasan kokoh sehingga pemimpin dapat memimpin organisasi gereja dengan efektif, efisien dan sehat, yang akan membawa keberhasilan serta kemanfaatan bagi semua pihak. Pemimpin gereja seperti inilah yang diharapkan dapat meneguhkan gereja mengantisipasi perubahan yang terjadi dalam lingkungan di mana kepemimpinan dijalankan.  Keempat, dalam menjalankan upaya memimpin dalam kepemimpnannya, pemimpin sepenuhnya harus meyadari bahwa faktor waktu  yang ada padanya merupakan kesempatan anugerah, yang olehnya pemimpin harus mengisi kepemipinannya secara bijaksana. Mengisi kepemipinan secara bijaksana berarti pemimpin harus memimpin dengan benar, baik, sehat dan produktif yang membawa hasil positif. Kebenaran ini menegaskan bahwa pemimpin harus menjalsnkan kepemimpinanya secara penuh kesadaran bahwa inilah waktu yang TUHAN Allah percayakan kepadanya untuk menjadi pemimpin. Karena itu, ia harus meimpin dengan sebaik-aiknya. Kelima, pemahaman tentang kepemimpinan gereja seperti yang di uraikan di atas, mengharuskan pemimpin meyadari sepenuhnya akan tanggung jawabnya dalam menjalankan upaya memimpin.  Hal khusus yang harus diperhatikan ialah pemimpin perlu memperhatikan faktor-faktor kontekstual yang berhubungan aspek sosial kultural, sehingga upaya memimpin yang dilakukannya dapat terlaksana dengan benar dan baik, serta menyentuh hati, serta membawa berkat.

PEMIMPIN DALAM KEPEMIMPINAN JEMAAT
Pemimpin gereja adalah pemimpin rohani. Sebagai pemipin rohani, ia memiliki tanggung jawab besar serta penting dan berat untuk menjalankan upaya memimpinnya. Sebagai hamba TUHAN, pemimpin sangat bertanggnungajwab meneguhkan sikap terhadap diri sendiri serta rumah tangganya, dan sikap terhadap pelayanannya, sehingga ia terbukti layak untuk memimpin umat Allah.  Dalamkaitan ini, kebenaran terpenting yang harus diperhatikan oleh setiap pemimpin rohani ialah, Pertama, sebagai pemimpin rohani, pemimpin gereja secara khusus terpanggil sebagai gembala. Panggiannya sebagai gembala inilah yang mengharuskannya mencontohi Gembala Agung, yaitu TUHAN Yesus Kristus dengan “hidup seperti DIA” (Yohanes 10:11; I Yohanes 2:6). Di sini setiap gembala harus menyadari bahwa ia adalah “pemimpin rohani,’ yang bertanggung jawab menjalankan kepemimpinannya sedemikian rupa sehingga kehidupan dan pelayanannya menjadi berkat. Kehidupannya harus mendemonstrasikan iman, pengharapan dan pelayanan yang dapat dicontohi (Ibrani 13:7). Di sini pemimpin jemaat harus menjadi contoh dalam hal iman dengan etika moral agung. Kedua, sebagai gembala ia harus membangun dirinya di dalam kebenaran dan kesucian (I Petrus 1:15-16). Pemimpin rohani harus hidup dalam kebenaran, kekudusan, keadilan, serta kebaikan sehingga ia dapat memimpin dengan kuliatas tinggi (Filipi 4:5,8-9). Ia harus membuktikan dirinya hidup dalam kemurniah hati, jiwa dan rohnya, sehingga ia memiliki budi yang luhur (Yesaya 32:8; Roma 12:1-2) yang olehnya ia dapat memimpin secara arif. Kebenaran ini bersifat wajib, karena pemimpin yang memimpin dengan budi luhur sajalah yang dapat menimpin dari hati (Amsal 4:23), yang olehnya ia membawa berkat bagi orang yang dipimpinnya. Pemimpin dalam hal ini harus memimpin dalam kasih, iman serta pengharapan yang teguh sehingga ia dapat mempersatukan dan membangun jemaat (Efesus 4:1-17). Pemimpin dalam hal ini memimpin sambil menjaga dirinya agar ia dapat melaksanakan tugasnya dengan benar serta melindungi orang-orangnya (I Timotius 4:16). Pemimpin berbudi luhurlah yang dapat menjalankan kepemimpinannya dengan hikmat seperti Salomo, sehingga ia memberkati orang-orangnya (I Raja-raja 3:9-14; 16-28). Pemimpin yang menjaga hatinya adalah pemimpin yang dapat memimpin dalam kebenaran dengan membawa kedamaian (Yesaya 32:1-2, 17) serta meneguhkan bahnyak orang (Daniel 12:3). Ketiga, sebagai pemimmpin rohani, ia harus membangun diri dan rumah tangganya di dalam TUHAN, sehingga ia membuktikan bahwa ia layak memimpin umat yang dipercayakan kepadanya. Ia haruslah seorang kepala dan atau Ibu rumah tangga yang dapat dicontohi karena dihormati oleh anak-anaknya (I Timotius 3:1-7), sebagai orang dapat dipercaya (II Timotius 2:2). Keempat, sebagai pemimpin rohani, ia harus memimpin dengan sukarela, suka cita, tidak mencari keuntungan sendiri, karena ia adalah representasi Kristus bagi umatnya (I Petrus 5:1-5; Ibrani 13:17). Kelima, dalam tugasnya, gembala adalah representasi nabi (yang berbicara atas nama TUHAN), imam (yang mewakili umat di hadapan TUHAN) dan rasul (terutus TUHAN untuk) menjalankan misi-Nya. dalam kaitan ini, gembala harus menjalankan tugas sedemikian kudus, sehingga ia layak di hadapan TUHAN dan manusia serta dapat melakukan tugas mulianya dengan penuh berkat. Keenam, pemimpin rohani harus memimpin dalam roh yang bernyala-nayal bagi TUHAN, sehingga ia menjalankan kepemimpinannya dengan penuh semangat, penuh kebenaran, penuh kebaikan yang memberkati banyak orang (Roma 12:9-21). Ketujuh, gembala sebagai pemimpin rohani haruslah mempertahankan sikap rendah hati dan taat penuh kepada Allah dengan menjadi pembelajar sepanjang hidupnya, sehingga ia dapat terus berkembang serta menjadi berkat secara konsisten (Yesaya 50:4). Gembala sebagai pembelajar, harus mengutamakan Firman Allah dalam kehidupannya (Mazmur 1), sehingga kehidupan rohaninya bertumbuh. Gembala harus menjadikan Firman Allah segala-galanya bagi dirinya (Mazmur 119:105), sehingga ia menjadi pemimpin rohani yang kuat, dimana seluruh hidup dan pelayanannya mencerminkan keagungan TUHAN. Pada akhirnya pemimpin dapat menjadi berkat kepada banyak orang serta membawa kemuliaan kepada TUHAN Allah (Roma 11:36). Kenyatan ini harus dimuai dari dalam jemaat, sampai keluar batas ke dalam masyarakat, sehingga TUHAN Allah terus diagungkan, dan pemimpin menjadi berkat serta menikmati berkat (Ulangan 28:1-14).

ANGGOTA JEMAAT DALAM KEPEMIMPINAN GEREJA
Anggota jemaat adalah bagian penting dari kepemipinan gereja. Alasan terkuatnya ialah bahwa, apabila ada gembala sebagai pemimpin, maka kepemimpinan itu ada karena adanya anggota jemaat sebagai orang yang dipimpin. Dalam hubungan ini, peran anggota jemaat yang sangat krusial ialah bahwa mereka harus menyadari keberadaan, peran dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari organisasi serta kepemimpinan gereja. Sebagai orang yang dipimpin, “Amanat Kepengikutan” (followership) dari TUHAN kepada jemaat ialah “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan kepadamu” (Ibrani 13:17; I Timotius 5:17-18). Dari mandat kepengikutan ini, ada beberapa kebanaran yang harus disikapi secara bertanggung jawab oleh semua anggota jemaat, antara lai; Pertama,  setia anggota jemaat bertanggung jawab untuk menaati pemimpinnya dalam TUHAN, yang diwujudkan didalam kebenaran, kasih, kekudusan dan kesetiaan. Ketaatan ini didasarkan atas kesadaran bahwa pemimpin bertanggung jawab penuh atas jiwa mereka di hadapan Allah. Kedua, anggota jemaat sebagai bawahan bertanggung jawab secara khusus untuk memberikan dukungan kepada gembala sebagai pemimpin, sehingga ia dapat menjalankan kepemimpinannya dengan sukacita (I Petrus 5:1-4). Dukungan ini bersifat imperatif (perintah yang wajib dilakukan) karena anggota jemaat adalah bagian dari kepemimpinan gereja pada satu sisi. Pada sisi lain, dukungan ini adalah merupakan wujud partisipasi penting dari setiap anggota untuk mengdukung kelancaran kepemimpinan gereja. Dalam hubungan ini, indikator terpenting dari keberhasilan kepemimpinan gereja ialah adanya dukungan serta partisipasi aktif dari semua anggota jemaat. Dukungan dan partisipasi anggota ini bukan saja dilakukan dengan memberikan hartanya, tetapi terlebih penting adalah komitmen untuk mengabdi bersama-sama, dan bukti bekerja sama bahu membahu memajukan pekerjaan TUHAN. Ketiga, dukungan bawahan terhadap pemimpin merupakan reinforcement  (peneguhan) baginya, sehigga ada kekuatan ganda padanya untuk menjalankan kepemimpinan secara berkualitas. Dukungan anggota kepada pemimpin meneguhkan moral serta semangat kerja dari pemimpin, sehingga ia dapat menjalankan kepemimpinannya dengan penuh kasih karunia, rajin serta berapi-api bagi TUHAN (Roma 12:9-11).

Mewujudkan peran anggota dalam kepemimpinan seperti yang diuraikan di atas, menuntut pemimpin untuk berinisiasi sera aktif untuk meneguhkan iman, kasih dan harapan semua anggotanya. Dalam kaitan ini, gembala bertanggung jawab penuh memimpin bawahannya di dalam pengenalan akan kasih TUHAN, sehingga mereka menjadi “dewasa di dalam TUHAN” (Efesus 4:1-17). Kedewasaan anggota jemaat terlihat dalam dua indikator penting. Pertama, ada kedewasaan rohani, dimana mereka akan lebih mengasihi TUHAN, mengasihi gembala serta mengasihi sesama anggota (Kisah Para Rasul 2:41-47). Kedewasaan rohani memberikan kekuatan karakter Kristen sebagai landasan utama bagi hubungan-hubungan dan pengabdian bersama di dalam jemaat. Kedewasaan rohani ini akan nampak dalam kemauan benar dan baik yang nyata pada sikap saling menagasihi, menghiraukan, saling mendukung mewujudkan sinergi dalam menjalankan kepemimpnan gereja (Yohanes 13:1, 34-35). Kedua, ada kematangan kerja, yaitu sikap pengabdian yang tinggi kepada TUHAN dan gerejanya (Markus 10:41-45). Sikap kematangan ini dinyatakan dalam kerja yang penuh pengabdian (Lukas 17:10), dimana semua anggota terlibat secara aktif serta sukacita mendukung kepemimpinan gereja. Keterlibatan kerja melalui pengabdian semua anggota ini mewujudkan sinergi yang menggerakkan mesin kehidupan gereja secara simultan (bersama-serempak), yang olehnya akan ada bukti kemajuan yang pasti. Indikator terpenting bahwa gereja serta kepemimpinan jemaat sedang maju dan berkembang ialah, “Mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari TUHAN menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan” (Kisah Para Rasul 2:47).

EPILOG
Gereja sebagai Umat Allah yang  terhimpun dalam suatu organisasi memiliki hubungan yang erat dengan kepemimpinan.  Kepemimpinan gereja menunjukkan adanya pemimpin, yaitu gembala dengan peran lengkapnya sebagai pemimpin, anggota jemaat dengan peran utuhnya sebagai peserta keberhasilan organisai dan situasi setempat yang harus dihidupi secara kondusif oleh semua komponen manusia gereja. Apabila gembala dan semua anggota memperhatikan serta mengihidupi prinsip yang telah di singgung si atas, kepemimpinan gereja pastilah akan berjalan sebagai mana mestinya. Dalam hubungan ini, gembala sebagai “pemimpin rohani“ sangat bertanggung jawab membangun kepemimpinan gereja yang dipimpinnya. Karena itu, ia harus memulai dengan membangun dirinya di dalam TUHAN, yang olehnya ia mampu hidup dan pemimpin sebagai pemimpin rohani yang sejati. Gembala yang kompeten, tentu menyadari akan tanggung jawab utamanya sehubungan dengan kehidupan anggotanya. Dalam kaitan ini, gembala harus memberi dirinya untuk mendewasakan anggotanya di dalam TUHAN, yang olehnya mereka terlengkapi bagi tugas pelayanan. Gembala sebagai pemimpin rohani yang kompeten dan anggota jemaat yang dewasa serta matang menampakkan indikatornya dalam kepemimpinan gereja yang berkualitas. Kepemimpinan gereja yang berkualitas ini nampak dalam disiplin rohani, komitmen setia kepada TUHAN, serta dedikasi untuk mengabdi kepada Allah bagi tugas misi-Nya (Yohanes 17:18). Pada akhirnya dapat ditegaskan bahwa kepemimpinan gereja yang berkualitas akan terbukti dengan adanya kemajuan dalam palayanan yang membawa banyak jiwa datang kepada TUHAN dan memuliakan nama-Nya yang kudus (Roma 11:36). Selamat membuktikan diri!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar